I Feel...

Aku melihatnya menampakkan senyuman lebar yang membuatnya terlihat begitu manis. Wajahnya yang memang sudah tampan dari lahir membuatnya terlihat benar-benar nyaris sempurna. Dirinya berdiri di depan meja itu dan menghadap ke arahku sambil mengeluarkan candaan kecilnya kemudian tersenyum sedikit lebar untuk membuatku tersenyum juga tertawa, mungkin? 

Hanya saja... Tiba-tiba terbesit di kepalaku. Dia telah memiliki kekasih. Benar. Kekasih tidak halalnya. Hah..! Dia tampan dan manis. Namun, setidaknya dia tetap menjaga diri untuk kekasih halalnya di waktu yang telah menanti suatu hari. Dan lagi, dengan cara itu tidak akan membuatku terbawa suasana. Memang benar jika aku membalas senyumannya, akan tetapi bukan berarti aku masih bodoh seperti kala itu.

Aku telah mengunci hatiku rapat-rapat, sehingga diriku yang menjaga pintu hati itu mengatakan kepada pikiranku bahwa aku tidak akan membuka hatiku setelah adanya akad nikah yang telah direncanakan-Nya suatu hari, jika Dia menghendaki. Atau mungkin... Aku memang tidak ditakdirkan untuk memiliki kekasih? Sudahlah... Aku tak terlalu memikirkan hal itu. Aku yakin, jika pilihan-Nya tentu yang terbaik.

Pada awalnya, aku menghargai orang yang mencoba untuk mendekat. Entah ia mempunyai niat baik atau pun buruk. Aku harap itu baik. Aku belajar dari masa lalu untuk tetap bersikap baik di segala situasi. Aku tahu itu sulit. Namun... Setidaknya aku tidak membuat mereka kecewa dengan sikapku, bagi mereka yang punya ketulusan hati.

Suatu saat, seseorang mendekat dan duduk di sampingku. Sengaja aku tidak menghindar pergi agar aku tahu apa yang akan disampaikan kepadaku. Ku geser kursiku sedikit lumayan berjauhan darinya. Dia mengambil camilan yang ia beli dari night market tersebut dan mengunyahnya. Benar. Kita ada acara yang sama di night market. Dirinya menanyakan sesuatu yang membuatku harus menjawab sebagai imbal balik.

Aku... Benar-benar tidak menyukai pembicaraan yang basa-basi. Ku jawab dengan singkat beberapa pertanyaannya yang dilontarkan, lalu memberikan senyuman sebagai isyarat untuk menutup perbincangan tersebut. Netraku ku alihkan ke depan dan fokus pada sekitar. Beruntung temannya sudah tak lagi ada di sana. 

Aku bukan ingin menyendiri untuk rasa sepi. Aku hanya ingin mencari ketenangan diri di raupan O² yang mengelilingi dengan tenang walaupun terkadang hembusan angin semilir menerpa. Di heningnya malam ku sendiri, aku menyadari. Terlalu banyak seseorang mendekatiku karena penasaran, tanpa tahu jika aku tak menyukai penguntit. Ingin mengubahku menjadi sosok yang periang tanpa tahu jika sebenarnya merekalah sumber diamku. Dan melakukan hal yang sama seperti apa yang mereka lakukan tanpa tahu jika yang mereka lakukan terkadang akan membuat diri mereka sendiri hancur. 

Aku tak ingin mengulang kesalahan yang terlalu terbuka untuk ku katakan pada seseorang. Cukup saat itu dan tak ada lagi penyesalan kedua, ketiga, dan seterusnya. Semua meninggalkan kesan yang amat membekas dalam diri. Aku memang tidak sakit, tapi hatiku yang sakit. Aku tak bisa mengatakan tidak dan selalu menuruti apa keinginan mereka. Pada akhirnya, aku kembali ke tempat peristirahatanku kemudian meneteskan buih-buih bening. Jika dipikirkan, aku sia-sia melakukan itu dan ku putuskan untuk naik ke rooftop untuk melihat hamparan kuasa-Nya yang indah. Ya, aku menahannya. Aku hanya tak ingin dengan apa yang mereka lakukan akan membuatku tak dapat melihat dunia yang belum ku jamah sepenuhnya.

Memandang background biru muda lalu menjadi tangerine dari semburat planet pertama yang akan meninggalkan wilayah tempatku berdiri. Dengan tumpukan gumpalan putih yang menyebar dan membentuk diri menjadi bentuk-bentuk aneh ataupun lucu. Bentuk-bentuk yang membuatku bertanya-tanya, dapatkah aku melihat kuasa-Nya yang lain melalui gumpalan-gumpalan putih itu layaknya seseorang melihat keindahan itu? Ah. Mungkin belum saatnya, atau bahkan ada kemungkinan jika aku tak diizinkan untuk memandangnya.

Komentar

Postingan Populer