Stronger?
"Capek ngga sih, nyemangatin diri sendiri terus?"
Engga capek. Jika aku terus memahamkan kepada diriku bahwa berusaha keras itu diperlukan, maka aku harus melakukannya. Aku selalu membagi coretanku kepada orang lain yang aku harap ketika mereka merasa down seperti diriku, mereka mampu sedikit lebih bangkit.
Itu bukan karena aku lebih baik dari mereka, bukan karena aku lebih hebat dari mereka, dan belum tentu pengalaman hidupku lebih banyak dari mereka. Aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi, ketika mereka yang suasana hatinya atau pikirannya buntu lalu depresi tiba-tiba melakukan bund*r.
"Emang pernah ada perasaan atau pikiran seperti itu pada dirimu?"
Pernah. Rasanya sangat kosong. Seperti belahan dunia yang tandus, kering, sunyi, tanpa makhluk hidup, dan aku di sana sendirian. Rasanya seperti tidak ada yang peduli padaku. Aku hampir tak percaya, jika Tuhan itu ada. Dan pikiran apa yang pernah tersemat di akhir pemikiranku tentang analisa kehidupan suram itu? Aku, selalu ingin bund*r.
Mungkin orang lain akan menganggapku seperti orang yang kehilangan sebagian akalnya. Tapi, itu benar adanya. Orang yang depresi itu bukan karena kurang ibadah dan berdoa. Aku selalu beribadah dan selalu berdoa di masa-masa suramku, tapi memang aku tidak melihat kekuasaan Tuhan. Rasanya aku lelah. Mungkin karena aku tidak memperhatikan tentang sebuah hikmah.
Ternyata, aku pun merasakan hal ini.
Aku selalu berusaha untuk bangkit dari masa-masa itu.
Iya, benar. Ada tujuh orang yang membawaku bangkit dan kembali tersenyum.
Aku... Menyukai mereka. Tetapi, Ibuku tidak.
Bagaimana?
Baik. Inilah sepenggal kisah hidupku.
,,,
Komentar
Posting Komentar